Pemerintah akan Mengawasi Perederan Rockmelon

Posted by  Redaksi | March 09 2018

Rockmelon populer sebagai melon berwarna oranye cerah dengan rasa yang manis. Buah ini banyak ditanam di Australia dan Selandia Baru dan diimpor ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Namun baru-baru ini terbit kabar buruk terkait buah berkulit kasar tersebut. Pemasarannya di berbagai negara dihentikan.

Pasalnya, di Australia dikabarkan empat orang tewas dan 17 lainnya jatuh sakit setelah mengonsumsi buah yang juga disebut cantaloupe itu. Dua korban meninggal diketahui berasal dari New South Wales (NSW) dan dua lainnya dari Victoria, Australia.

Empat korban tersebut dipastikan meninggal karena terjangkit bakteri Listeria monocytogenes.

Listeria adalah bakteri yang biasa ditemukan pada makanan. Biasanya orang yang tak sengaja mengonsumsi bakteri ini takkan jatuh sakit. Walau demikian, bakteri ini bisa jadi berbahaya bagi orang lanjut usia, ibu hamil, dan pengidap diabetes atau kanker.

Listeriosis biasa diawali dengan gejala mirip saat terserang influenza, seperti meriang, demam, sakit kepala, sakit pada sendi dan otot serta rasa mual. Masa inkubasi bakteri ini bisa mencapai hingga 70 hari.

"Biasanya sekitar satu hingga tiga orang yang terjangkit listeriosis meninggal setiap tahunnya. Tetapi, kebanyakan kasus tak pernah sefatal ini, seperti yang kami lihat pada kontaminasi rockmelon," sebut Dr Vicky Sheppeard, direktur bagian penyakit menular di NSW Health, Australia.

Kejadian ini pun membuat peredaran rockmelon dihentikan. Rockmelon resmi ditarik secara serentak dari pasaran di Australia pada 28 Februari 2018.

Salah satu pertanian yang teridentifikasi sebagai produsen rockmelon berbakteri adalah Nericon di NSW Riverina, Australia. Pertanian ini pun setuju untuk menyetop distribusi rockmelon sejak dua minggu lalu.

Kementerian Pertanian Indonesia pun langsung merespons hal ini dengan menerbitkan Surat Keputusan Menteri Pertanian nomor 207/Kpts/KR.040/3/2018 tentang penutupan pemasukan. Keputusan itu diambil berdasarkan surat dari Konsuler Agrikultur Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada 3 Maret 2018.

Badan Karantina Pertanian (Barantan) pun berjanji akan memperketat pengawasan dan kewaspadaan terhadap pemasukan buah utuh atau buah potong rockmelon/cantaloupe (Cucumis melo) dari Australia dan/atau eks-impor asal Australia dengan melakukan uji laboratorium pada setiap pemasukan dengan target uji Listeria monocytogenes.

Dilansir Republika, Barantan juga akan memperketat pemeriksaan buah impor asal Australia lainnya, karena bukan tidak mungkin juga berpotensi menularkan bakteri tersebut.

"Kita punya pengalaman memusnahkan buah apel berbakteri listeria pada tahun 2016 asal Amerika. Maka, kami akan periksa lebih jauh buah impor asal Australia," katanya menegaskan.

Uji Listeria monocytogenes juga akan dilakukan di laboratorium yang terakreditasi. Apabila ditemukan, maka buah-buahan tersebut akan langsung dimusnahkan.

Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati Dr Antarjo Dikin mengatakan bahwa Indonesia tidak mengimpor rockmelon Australia. Sebaliknya, Indonesia malah mengekspor buah tersebut, seperti ke Singapura dan Timur Tengah.

Meskipun pemerintah memastikan tak ada rockmelon impor Australia di Indonesia, namun saat tim Beritagar.id mencoba mencarinya di supermarket besar di Indonesia, kami masih menemukan adanya buah tersebut.

"Ya benar, itu impor Australia," jelas seorang pegawai di seksi buah-buahan yang kami temui. Ia juga mengaku tak tahu menahu perihal imbauan penyetopan impor rockmelon asal Australia.

Sementara itu, seperti dilansir The Straits Times, di Singapura ada dua konsinyasi penjualan rockmelon yang berasal dari pertanian Australia yang terkontaminasi. Buah ini dijual mulai 12 Februari hingga 2 Maret 2018 di supermarket Sheng Siong dan beberapa pasar tradisional.

Pemerintah Singapura pun langsung bergerak cepat untuk menarik melon-melon yang belum terjual.

 

Redaksi  | Pedoman Media Cyber  | Kontak Pos  | Info Iklan 

Copyright @2018 - HaloSelebriti. All Right Reserved