Bermimpi menjadi Ratu Kebahagiaan

Posted by  Ahmad Taufik | January 23 2018

Selain mengajar sebagai dosen di STIKES Kusuma Husada dan perawat di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) dr. Arif Zainudin Surakarta, Wahyu Yuniati, jago cuap-cuap didepan khalayak.

Kemampuannya public speaking juga tertata sempurna dengan artikulasi nyata ketika membuka pelatihan menulis ‘Endonesa Menulis: Chapter Solo Batch #3’, di Mangkubumen, Solo, Jawa Tengah, Minggu (14/1) lalu. Pelatihan ini digagas coach writer dan jenius writing populer Lutfi JW.

Sudah sebulan lebih, seusai mengikuti pelatihan menulis perdana Batch #1 di Solo pada 17 Desember 2017, kemampuan Wahyu menunjukkan perkembangan berarti. “Buku pertama saya, ‘Menganyam Kebahagiaan’, sudah outline tapi ada sedikit kendala. Baru cicil beberapa bab. Per bab saya bikin 3 paragraf,” ucap ibu dari tiga anak ini.

Perkenalan Wahyu dengan dunia menulis, sebetulnya bukan kali pertama ini. Ketika bertugas sebagai perawat di RSJD dr.Arif Zainudin Surakarta, ia pernah dipercaya mengisi artikel cerpen di majalah internal di rumah sakit itu sejak 2012. Ia juga penanggung jawab di majalah itu.

Wahyu Yuniati

Sayangnya, sekitar dua tahun terakhir, majalah ini berhenti terbit. “Saya kangen menulis ketika Kagama (Komunitas Alumni UGM) bikin pelatihan menulis. Saya ikut di batch Solo. Setelah itu, coach Lutfi meminta saya bikin outline. Saya menulis tentang cerita-cerita umum pasien di RSJ, tempat saya bertugas,” jelas jebolan S1 Keperawatan UGM tahun 2006 ini.

Mulai melangkah, ia sempat menemui kesulitan. Menelusuri cerita pasien tak detail hingga minimnya menggali informasi, menjadi kendala utama. Atas rekomendasi coach, ia mulai menggarap buku kedua berjudul ‘Menganyam Kehidupan’. Ia tertarik menulis buku karena ini adalah dunia yang membahagiakan buatnya. Setelah ikut pelatihan, ia merasa hidupnya lebih bahagia. Terutama saat menikmati karya sendiri.

“Saya juga bisa lepas dan curhat. Cerita saya lebih banyak kehidupan sehari-hari. Kalau coach, diarahkan ke otak kanan, otak kreatif. Tapi kadang saya berhenti di otak kiri. Saya masih sedikit terkurung untuk menulis runtut dan nyambung,” ucapnya, tanpa bermaksud mengeluh.

Sempat terhenti sejenak karena sibuk bekerja, kelahiran Wonogiri, 10 Juni 1982 ini, kembali mulai menulis sejak pertengahan Desember 2017. Naluri dan ‘iri’ hatinya tersengat ketika beberapa temannya mengunggah artikel di akun sosial media. “Kalau teman upload, saya suka like. Padahal, sih, minder, hehe. Tapi saya timbul motivasi,” ungkapnya.

Sambil membagi waktu dengan pekerjaannya sebagai perawat, dosen tamu, dan pembawa acara, ia memiliki kebiasaan menulis setelah pukul 21.00. Itu pun setelah pekerjaan rumah beres dan anak tidur malam.

 

Redaksi  | Pedoman Media Cyber  | Kontak Pos  | Info Iklan 

Copyright @2018 - HaloSelebriti. All Right Reserved