Tinggal di Gubuk, Ini Cara Christine Hakim Dalami Peran Ngasirah Tinggal di Gubuk, Ini Cara Christine Hakim Dalami Peran Ngasirah

Tinggal di Gubuk, Ini Cara Christine Hakim Dalami Peran Ngasirah

Published in Film Written by  March 16 2017 font size decrease font size increase font size
Rate this item
(0 votes)

HaloSelebriti.NET-Jakarta- Siapa yang tidak kenal Christine Hakim? Aktris kharismatis senior papan atas Indonesia ini sudah menjadi legenda tersendiri di dunia perfilman dan seni Tanah Air.
Selama lebih dari empat dekade berkarya di layar lebar, nama Christine Hakim telah menjadi jaminan mutu atas kualitas baik dari film yang dibintanginya. Hal ini terbukti dengan 7 Piala Citra yang sudah pernah diraihnya, terbanyak sepanjang sejarah sampai sekarang, termasuk Piala Citra khusus untuk Pencapaian Seumur Hidup (Lifetime Achievement Award) yang diraihnya tahun 2016 lalu.

Prestasi demi prestasi ini membuat Christine Hakim masih tetap terus berkarya, di saat banyak seniman di usianya sudah mulai mengurangi aktifitas mereka. Pesona Christine Hakim dalam memberi nafas kepada karakter yang dimainkannya masih tak tertandingi. Dan karya Christine sebagai aktris legendaris kali ini bisa kita saksikan dalam film Kartini, yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan diproduseri Robert Ronny.

Dalam film Kartini, Christine Hakim mempunyai peran penting sebagai Ngasirah, ibu kandung Kartini. Meskipun sudah cukup sering memerankan karakter yang diangkat dari kisah nyata, namun Christine mengakui bahwa memerankan karakter yang pernah ada dalam catatan sejarah itu tidaklah mudah.

Sosok Ngasirah yang diperankan oleh Christine Hakim di film Kartini

“Membuat film sejarah itu secara tidak langsung seperti merekonstruksi skenario Tuhan. Saya punya tanggung jawab moral yang lebih besar, jauh lebih besar dibanding karya-karya lainnya. Itulah sebabnya saya perlu menapak tilas kehidupan Ngasirah, Kartini dan keluarga Sosroningrat sampai ke Jepara, Rembang, dan Kudus. Di samping itu, yang tidak kalah pentingnya, saya berusaha juga menapak tilas batin Ngasirah dan terutama Kartini,” ungkap Christine Hakim, dalam press realese yang diterima HaloSelebriti.NET, Jakarta, Kamis (16/3/2017) siang.

Persiapan Christine Hakim untuk film Kartini memang tidak main-main. Keseriusan Christine menyiapkan peran Ngasirah terlihat dari intensitas yang dijalaninya. Meski sudah banyak menelan asam garam dunia akting, bagi Christine menjalani tugas sebagai aktor bukanlah hal yang mudah. Ia juga harus bisa memahami dan menghidupkan karakter dari peran yang ia mainkan.

“Tugas saya sebagai aktor adalah memahami dan menghidupkan peran yang diberikan. Termasuk bagaimana peran itu hidup, bernafas dan berinteraksi dengan karakter yang lain. Saya mencoba menganalisa Ngasirah dengan memahami tokoh-tokoh yang ada di dalam kehidupan Ngasirah, seperti Kartini, Sosroningrat, bagaimana karakternya. Bagaimana Sosroningrat di mata saudara-saudaranya, di mata Bupati yang lain, di mata Belanda. Kemudian bagaimana Kartini, Kardinah, Kartono dalam kehidupan kesehariannya,” paparnya.

Untuk bisa menghidupkan peran Ngasirah, yang mungkin tidak banyak diketahui oleh banyak masyarakat Indonesia, persiapan Christine tidak tanggung-tanggung. Dia sempat tinggal di set bangunan yang memang dibangun khusus untuk film Kartini beberapa hari sebelum syuting. Dia ikut membersihkan rumah tersebut, dan berpakaian selayaknya Ngasirah di luar syuting.


“Yang tersulit ketika memerankan Ngasirah adalah kompleksitas beliau sebagai anak seorang Kyai, lalu menjadi istri Bupati yang berdarah biru, walaupun sebagai istri pertama. Jadi sulit bagaimana menentukan di satu pihak, dia bukan pembantu, di lain pihak status sosialnya di dalam tradisi kehidupan yang harus dia jalani agak lebih tinggi sedikit dari pembantu,” cerita Christine Hakim.

Riset yang dalam dan serius yang dilakukan Christine Hakim untuk peran Ngasirah dan tokoh-tokoh lain di film Kartini membuatnya semakin mengagumi Kartini. Ini terlihat dari kesungguhan Christine Hakim dalam menyiapkan perannya sebagai Ngasirah, ibu kandung Kartini, untuk film Kartini, yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan diproduseri Robert Ronny.

“Dilema Kartini itu luar biasa besarnya. Bahwa pada akhirnya Kartini memilih untuk tinggal, tidak menerima beasiswa yang sudah dia dapatkan dari pemerintah Belanda, itu bukan kekalahan menurut saya, tapi itu suatu pilihan. Pilihan Kartini menurut saya tidak bisa dianggap sebagai kegagalan krn mempertahankan akar budaya bangsa juga penting. Bangsa yang tercabut dari akarnya, maka dia akan goyah,” tambahnya.

Harmonisasi menjadi penting bagi Christine, terutama untuk film Kartini, karena ini adalah film besar dengan jumlah pemeran yang besar juga.

“Inilah tantangannya karena ada banyak sekali cast yang terlibat dalam film ini, jadi saya tidak bisa berpikir hanya untuk kepentingan saya sendiri. Tapi bagaimana caranya bisa menjadi sebuah orkestra yang harmoni,” tutup Christine Hakim.

Read 222 times

Tentang Kami

Salam Halo Selebriti, jangan lupa selalu stay di depan TV nonton HALO Selebriti di SCTV setiap hari Senin s/d Kamis pukul 09.00-10.00 wib.

Follow : @haloselebs

- Disklaimer -

Halo Selebriti on Twitter