Connect with us

News

Anton Medan Meninggal karena Diabetes dan Berpesan Ingin Dimakamkan di Masjid Tan Kok Liong

Published

on

Kabar duka datang dari penceramah Anton Medan. Pemilik nama asli Tan Hok Liang sekaligus mantan Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) ini meninggal dunia pada hari Senin, 15 Maret 2021 kemarin. Ia wafat di kediamannya di Cibinong, Bogor, Jawa Barat di usia 62 tahun. Sosok yang sempat dikenal sebagai preman sebelum hijrah ini ternyata sudah lama menderita sakit diabetes.

Anak Alm. Anton Medan. (Foto: YouTube/SCTV |Status Selebritis)

“Emang penyakit gula pas datang, kesini dah nggak sadar dibawa ke rumah sakit positif, nggak ada karena denyut nadi masih ada walau sedikit. Pas dibawa ke rumah sakit baru dokter enakan sudah tidak ada. Sakit dah lama nggak ada sakit lain, gula doang,”ujar Anggi (putri Almarhum Anton Medan).

Kabar mengenai meninggalnya Anton Medan ini juga dibenarkan oleh ketua harian PITI, Deni Sanusi.

“Hari ini kita berduka Anton Medan berpulang ke Allah SWT. Hampir setahun beliau kurang sehat dan selama ini rawat jalan sembuh, namun  kambuh sampai terakhir beliau meninggal. Selama setahun ini beliau sebagai ketum PITI mendelegasikan  pada PLT Ketua Harian kami yang melaksanakan. Beliau sangat dekat dengan lapas indensia, hampir setiap saat berdakwah di lapas memberi kesadaran pada warga binaan untuk kembali ke jalan yang benar. Dan setiap napi yang  keluar dan datang menemuinya pasti diberi modal untuk usaha. Jadi sangat membantu menyadarkan napi yang menjalankan hukuman, amal ladang beliau ini,”terang Deni Sanusi (Ketua Harian PITI).

Anton Medan selama ini dikenal sebagai mantan preman di Indonesia. Ia telah bergelut dengan dunia kejahatan sejak usianya masih 12 tahun. Pria yang sudah masuk Islam itu sudah bolak-balik keluar masuk penjara karena kasus perampokan, judi dan aksi premanisme lainnya.

Alm. Anton Medan. (Foto: Instagram.com)

Anton Medan lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, 10 Oktober 1957. Ia menjadi mualaf sejak 1992. Anton Medan memiliki nama Islam Ramdhan Effendi.  Sebelumnya, Anton terlahir beragama Buddha dan sempat berpindah menjadi penganut Protestan ketika dipenjara di Cipinang. Akhirnya, ia memilih memeluk Islam hingga meninggal. Selanjutnya ia mendirikan rumah ibadah yang diberi nama Masjid Jami’ Tan Hok Liang yang terletak di areal Pondok Pesantren At-Ta’ibin, Pondok Rajeg, Cibinong, Jawa Barat.

Ia memilih syiar Islam di dalam rumah tahanan dan lembaga permasyarakatan. Tempat yang akrab dengan kehidupan masa kelamnya. Namun kerasnya kehidupan yang pernah dilaluinya. Tidak membuatnya kehilangan kasih sayang terhadap keluarga tercinta. Terutama isteri dan anak-anaknya. Ia adalah sosok ayah sangat dekat di hati anak-anaknya.

“Papah tuh figure ayah yang kuat, kita didik ama bapak bagaimana jadi anak yang kuat, pokoknya best-lah. Banyak sih ya kalo kayak gitunya, dia mendidik aja, ngedidik kita jadi kita jadi kuat. Pokoknya kepake ama orang, pengalamannya dulu diterapkan pada anak-anaknya dan sambil sisi positifnya jangan negatifnya,”ungkap Anggi.

“Baru kemaren kita becanda, ya layaknya papah sama anak karena janji mau jalan sama anak-anaknya kalo sembuh, tadi pagi masih Alhamdulillah taunya pas Zuhur dah tinggalin kita semua. Tergantung kalo itu, diluar orang taunya dia temperamen, padahal sebenarnya nggak, dia humoris. Alhamdulillah ke keluarga menjaga banget sosok papah banget walalu keras, tapi Alhamdulillah sayang sama anak anak,”sambung Anggi.

Hal yang sama diungkap pasangan selebriti, Rey Utami dan Pablo Benua. Saat melayat ke rumah duka. Kabut kedukaan nampak jelas di sudut mata Rey dan Pablo yang mengenal sosok almarhum secara dekat. Bahkan Pablo tidak menutupi awal menjadi mualaf dan belajar membaca surat Al Fatihah dibimbing langsung oleh almarhum.

“Sosok ayah yang  sangat baik sekali dan banyak mengajarkan banyak hal. Saya belajar baca Al-Fatihah dari  beliau. Sosok yang kebapak-an family man sayang keluarga, perhatiam sama Pablo. Mualaf yang banyak mengajarkan kebaikan dan bacaan solat dan Al-Quran, Pablo belajar dari beliau. Selalu ngasih nasehat apalagi kalo ada berita kita berdua, ada masalah langsung dia lbilang ada apa kalian, dia kasih nasehat sebagai orang tua,”ujar Rey Utami dan Pablo Benua.

Kini, sosok yang banyak menginspirasi banyak orang ini telah kembali ke pangkuan Sang Khalik. Bagi mereka yang mengenalnya memang tidak akan mudah untuk melupakan sosoknya yang baik dan banyak memberikan masukan kebaikan itu. Terlebih bagi keluarga yang ditinggalkan olehnya. Tidak lupa, anak Anton Medan, Mai juga mengucapkan banyak terimakasih bagi semua yang telah mendoakan Sang Ayah.

“Jika ada kesalahan yang disengaja dan tidak kita, kita mohon maaf sebesar-besarnya. Kita juga dari keluarga mengucapkan terimakasih untuk doanya bagi semua yang telah mendoakan. Kita minta doa yang terbaik buat papah,”tandas Mai (anak Anton Medan).

Sebelum meninggal, Anton berpesan kepada anak-anaknya, jika ingin ia ingin dimakamkan di masjid “Tan Kok Liong” yang dibangunnya di kawasan Pondok Rajek, Depok, Jawa Barat.

“Alhamdulillah dah semua terwujud, meninggal maunya dimakamin disamping masih yang papah dirikan,”ungkap Anggi. Selamat berpulang, Anton Medan.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *