Connect with us

#BersamaLawanCovid19

[SALAH] Seluruh Hewan Percobaan Vaksin Covid-19 Terbukti Mati Karena Suntik Vaksin

Published

on

Sumber foto: covid19.go.id

Berita tentang pandemi Covid-19 memang menjadi berita utama semenjak virus Covid-19 masuk ke Indonesia. Namun, banyak yang membuat berita bohong atau hoaks berkaitan dengan virus Covid-19. Salah satu berita bohong adalah tentang seluruh hewan percobaan Vaksin Covid-19 terbukti mati karena suntik vaksin. Menurut Hasil Periksa Fakta Gabriela Nauli Sinaga (Universitas Sumatera Utara), mengatakan bahwa tidak ada bukti hewan yang menjadi percobaan mati karena suntikan vaksin. Faktanya, vaksin Covid-19 telah terbukti aman oleh para ahli dan penelitian hewan.

Begini penjelasan yang dilansir oleh covid19.go.id:

Sebuah unggahan Facebook memperlihatkan tangkapan layar dari artikel penelitian yang menyatakan bahwa hewan yang diberi percobaan vaksin Covid-19, seluruhnya terbukti mati karena gangguan kekebalan, sepsis, dan/atau gagal jantung. Tangkapan layar artikel pun menyertakan bukti berupa tautan hasil penelitian yang membuktikan kebenaran hal tersebut. Namun, setelah dilakukan penelusuran, klaim bahwa seluruh hewan percobaan vaksin Covid-19 mati, sebulan setelah disuntik vaksin, merupakan sebuah kekeliruan.

Diketahui bahwa artikel yang menyebutkan tentang kematian hewan akibat vaksin Covid-19 ternyata memiliki salah tafsir. Tautan yang mendukung klaim mereka pun tidak tepat dengan konteks yang sedang dibicarakan. Diketahui bahwa tautan yang tercantum dalam tangkapan layar itu merupakan penelitian yang membahas tentang imunisasi sindrom pernafasan akut parah (SARS Coronavirus Vaccines) yang diterbitkan pada tahun 2012. Faktanya, penelitian ini tidak fokus pada vaksin Covid-19, atau bahkan menggunakan teknologi yang sama yang mendukung vaksin Covid-19 saat ini.

Penulis utama studi tahun 2012 sebelumnya telah mengonfirmasi kepada media Reuters bahwa hewan yang digunakan dalam penelitiannya, seperti misalnya tikus, tidak mati akibat vaksin yang diberikan kepada mereka. Dia juga menyatakan bahwa vaksin yang mereka uji dalam studi 2012 lalu, tidak menggunakan teknologi mRNA yang digunakan oleh beberapa vaksin Covid-19, seperti vaksin Pfizer/BioNTech. Hal ini menguatkan fakta bahwa kedua vaksin ini memiliki platform yang berbeda.

Melansir dari media Fullfact.org, Chris Magee, kepala kebijakan dan media di Understanding Animal Research (UAR) mengatakan bahwa dalam kasus vaksin Covid-19, data sudah ada untuk menunjukkan bahwa vaksin itu aman, yang memungkinkan para peneliti untuk menjalankan uji coba pada hewan.

“Seandainya hewan mati selama proses ini, uji coba manusia akan segera dihentikan. Fakta bahwa mereka tidak mati menunjukkan bahwa hewan-hewan itu tidak mati mendadak,” jelasnya.

Dirinya menambahkan bahwa untuk kebutuhan lebih lanjut, beberapa hewan akan melalui prosedur eutanasia (suntik mati) agar dapat diambil organ dalamnya. Ini merupakan cara yang memang diakui aman dan manusiawi untuk hewan. Hal ini lagi-lagi membantah klaim yang menyatakan bahwa hewan mati karena disuntik vaksin. Tampak bahwa sebenarnya hewan-hewan tersebut memang disuntik mati dengan prosedur eutanasia.

Jadi dapat disimpulkan, klaim artikel yang menyebutkan bahwa seluruh hewan mati pada percobaan vaksin Covid-19 merupakan hoaks kategori misleading content atau konten yang menyesatkan.

Jika menerima berita harus memastikan kebenarannya terlebih dahulu sebelum mempercayainya. Sebagai cara membantu melawan virus Covid-19 jangan lupa untuk mengikuti program vaksinasi dan terus menjaga kesehatan dengan menerapkan protokol kesehatan, 3M (Memakai masker, Mencuci tangan, dan Menjaga jarak). Juga 3T pemeriksaan dini (testing), pelacakan (tracing), dan perawatan (treatment). Mari sama-sama kita lawan virus Covid-19. Salam sehat!

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis: May Evita Sari

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *